MENGHADAPI SERANGAN MUSUH

Hengky Chiok

 

LA Times pada hari Rabu, tanggal 18 September menerbitkan sebuah artikel yang berhubungan dengan Indonesia. Artikel ini pada dasarnya adalah berdasarkan majalah Time edisi yang terakhir yang berbicara mengenai rangkaian pemboman yang terjadi di Indonesia beberapa waktu yang lalu. Srtikel tersebut  menceritakan seorang yang berkebangsaan Kuwait yang ditangkap di Indonesia di daerah Cijeruk , Bogor sebagai teroris.

Di dalam artikel tersebut orang Kuwait ini mengaku kalau dia adalah orang yang mengatur pemboman yang terjadi di Indonesia beberapa waktu yang lalu.

Mengapa saya menyinggung masalah ini ?? Bukan untuk berbicara soal politik tapi untuk memperlihatkan bahwa provokator - provokator  itu bisa muncul dimana mana . Di  dalam bagian Alkitab yang kita baca hari ini, kalau kita coba untuk menterjemahkan di dalam situasi zaman kita sekarang ini, saya kira Sanbalat dan Tobia bisa disebut sebagai provokator-provokator.

Di dalam Nehemiah 4:1 dikatakan bangkitlah amarahnya dan ia menjadi sangat sakit hati.” Nama mereka bukan saja hanya muncul di dalam pasal 4 pada waktu pembangunan sedang berjalan; namun juga dalam Nehemiah 2:10, “Ketika Sanbalat orang Horon dan Tobia orang Amon , pelayan itu mendengar hal itu , mereka sangat kesal karena ada orang yang datang mengusahakan kesejateraan orang Israel.”

Disini kita sudah diberikan tnda-tanda bahaya. Nehemia sudah mempersiapkan pembacanya waktu berbicara mengenai kemajuan di dalam pembangunan tembok Jerusalam. Nehemiah mengingatkan tidak semua orang menyambut rencana pembanguna ini  dengan senang hati . Orang orang Jerusalem menyambut dengan senang; Nehemia dan teman-temannya menyambut dengan senang . Tuhan sepertinya membuka jalan bagi mereka sehinga satu persatu semua berjalan dengan lancar. \

Kita masih ingat di dalam pasal 2 di mana  kita melihat bagaimana Tuhan bekerja di dalam hati raja Artahsasta. Belasan tahun yang lalu dia tidak mengijinkan tembok Jerusalem di bangun kembali. Sekarang Nehemia meminta, dan kemudian permintaan itu dikabulkan. Bukan hanya permintaan itu di kabulkan , Nehemia disediakan fasilitas fasilitas, diberikan surat pengantar supaya dia bisa lewat dengan aman . Diberikan pengawal pengawal dan diberikan surat kepada bupati-bupati supaya mereka memperlancar pekerjaan Nehemia. Bukannya itu saja, Nehemia diberikan kayu-kayu dan  bahan-bahan yang dibutuhkan supaya pembangunan bisa berjalan dengan baik. Namun dalam Nehemia 2:10 dikatakan ada Sanbalat, ada Tobia yang menentang , yang tidak suka dengan hal itu. Tidak semua orang senang dengan pekerjaan Tuhan.

Sebelum kita berbicara lembih lanjut, kita perlu memikirkan mengapa Sanbalat dan Tobia menentang pembangunan tembok Jerusalem? 

Sanbalat bukanlah nama Yahudi, Sanbalat itu adalah nama Babylonia. Namun dalam melalui penelitian arkeologi  kita mendapatkan bahwa Sanbalat itu menamai anak anaknya dengan nama-nama Yahudi. Juga anak perempuan Sanbalat menikah dengan anak dari iman besar (Neh 13:28) sehingga banyak penafsir Alkitab mengambil kesimpulan bahwa Sanbalat kemungkinan orang Yahudi;  khususnya karena dia disebut sebagai orang Horon . Horon itu adalah sebuah kota kecil yang berada di Judea . Karena dia dikatakan orang Horon , kemungkinan dia itu seorang Jahudi yang menjadi pejabat di dalam kerajaan Babel pada waktu itu dan kemudian dia di kirim kembali dan menjadi gubernur atau bupati. Dalam catatan arkeolog ditemukan ada Sanbalat yang menjadi bupati pada waktu itu di daerah Samaria pada saat yang sezaman dengan  Nehemia. Pada waktu itu saudara, Yudea itu berada di bawah pengwasan Samaria karena Yudea khususnya Jerusalem ini dikenal sebagai kota yang suka memberontak , sehingga mereka tidak dipercayakan mempunyai pemimpin sendiri. Mereka dapat memiliki bupati sendiri, seperti Zerubabel, namun Samaria tetap memiliki interes terhadap Yerusalem.

Dengan Jerusalem mempunyai tembok sendiri mereka mampu melindungi diri sendiri . Mereka tidak membutuhkan Samaria , mereka tidak membutuhkan Sanbalat dengan kata lain Sanbalat seperti kehilangan sebagian dari wilayahnya. Bahkan dalam Neh 5:14 kita melihat bahwa Sanbalat bahkan kehilangan pengaruhnya secara total dengan diangkatnya Nehemia menjadi bupati. Tidak heran Sanbalat dan Tobia menjadi sakit hati dan marah. Mereka tidak lagi dapat mengambil keuntungan dati kelemahan Yerusalem

Kemungkinan yang ke dua adalah kembali kepada zaman yang lebih jauh , kira kira 50 - 70 tahun sebelumnya. Di dalam kitab Ezra 4 disitu di ceritakan waktu Ezra dan orang orang yang baru kembali pada waktu itu ,mereka mau mebangun Bait Allah . Di sana di katakan ada sekelompok orang orang dari Samaria datang dan meminta supaya mereka bisa terlibat dalam pembangunan bait Allah.

Permintaan mereka ditolak oleh Ezra karena mereka bukan penyembah-penyembah Tuhan. Mereka menyembah berbagai allah, dan salah satunya adalah Yahweh. Orang Samaria sebetulnya walaupun mereka bisa di katakan secara keturunan itu memiliki hubungann dengan orang Yudea tetapi mereka kawin campur. dengan bangsa-bangsa lain. Allah yang mereka sembah bisa di katakan  Allah yang sama dengan orang Yahudi tapi yang sudah di campur  baur dengan agama agama lain . Mereka mengambil allah dari bangsa bangsa lain sebagai bagian dari agama mereka.

Hal ini menyebabkan orang orang Yudea pada zaman Ezra itu menolak mereka untuk terlibat dalam pekerjaan Tuhan. Mereka tidak mau menurunkan standard. Sejak saat itu orang-orang Samaria marah dan sakit hati dan masih terus berlanjut pada  zaman Tuhan Yesus .Kita masih ingat tentang perempuan Samaria dalam Injil Yohanes.

Di dalam Neh 4:1 dikatakan bahwa mereka makin marah dan makin sakit hati, waktu melihat pembangunan itu berjalan dengan sangat baik. Dalam ayat 7, “etika Sambalat dan Tobias orang Arab dan orang Amon dan Orang Asdod , mendengar bahwa pekerjaan pembagunan tembok Jerusalem maju dan bahwa lobang-lobang tembok mulai tertutup , mereka sangat marah. Waktu mereka melihat kemajuan dalam pekerjaan Tuhan, hati mereka menjadi makin cemburu dan dengki,

Di dalam kita membangun pekerjaan Tuhan dan juga dalam  kehidupan rohani kita kita pasti menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. Pada saat kita sebagai gereja ingin maju , pada saat kita ingin maju dan bertumbuh dalam kerohanian , suka tidak suka , siap tidak siap , Iblis akan terus menerus menyerang . Bahkan ada seseorang yang mengatakan kalau di dalam pelayanan semua berjalan dengan lancar dan tidak ada serangan dari Iblis  orang kristen harus berhati hati. Kalau Iblis tetap diam kemungkinan apa yang ktia lakukan tidak mengganggu dia sama sekali. Iblis baru akan marah, mulai akan menggangu kita  kalau pelayanan kita makin mengurangi kuasanya.

Pada saat musuh menyerang; pada waktu kita menghadapi tantangan di dalam pelayanan, di dalam kehidupan rohani kita , apa yang dapat kita lakukan ??

Dalam bagian ini  ada 3 hal yang dapat kita pelajari dan renungkan bersama:

Dalam ayat 4 dan 5 kita melihat respon Nehemia terhadap masalah yang dihadapinya. “Ya, Allah Kami dengarlah bagaimana kami dihina ,balikanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri dan serahkanlah mereka menjadi jerahan di tanah tempat tawanan. Jangan Kau tutupi kesalahan mereka , karena dosa mereka jangan kau hapus dari hadapan Mu karena mereka menyakiti hati Mu dengan sikap mereka terhadap orang orang yang yang sedang membangun.”

Ayat 4 dan ayat 5 mengajarkan satu hal : waktu Nehemia menghadapi tantangan yang pertama dia lakukan adalah datang kepada Tuhan dan menyerahkan masalah ini kepada Tuhan di dalam doanya. Hal yang pertama yang harus kita lakukan pada waktu kita mengalami kesulitan adalah datang kepada Tuhan dan menyerahkan masalah itu kedalam tangan Tuhan  di dalam doa-doa kita .

Hal yang sama dilakukan Nehemia dan orang-orang Yahudi dalam ayat 9, yang adalah  respon terhadap situasi yang disebutkan dalam ayat 8. Sewaktu Sanbalat dan Tobia makin marah orang-orang di Yerusalem makin berdoa.

Nehemia adalah seorang pemimpin yang berdoa . Di dalam berbagai hal yang terjadi di dalam kehidupannya dia selalu berdoa.. Di dalam doanya dia mengeluarkan isi hatinya kepada Tuhan. Dia memberi tahukan pada Tuhan apa yang dia rasakan; berbicara secara pribadi kepada Tuhan . Hal ini menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang memelihara hubungan yang dekat dengan Tuhan. Kalau kita tidak terbiasa menjalin hubungan dengan Tuhan, bukan saja kita tidak tahu berdoa, namun kita mungkin tidak akan menikmati saat-saat doa.

Doa adalah respon yang pertama dan respon yang terbaik saat kita mengalami kesulitan. Itu sebabnya kita harus belajar untuk di dalam segala sesuatu kita mulai dengan doa, walaupun semuanya kelihatannya oke.  Kita perlu belajar untuk selalu memulai dengan doa , karena baru dengan demikian pada waktu di dalam kesulitan kita tahu berdoa.  Sering kali kita tidak tahu berdoa karena kita tidak membiasakan diri. 

Itu karenanya kita sebagai orang kristen perlu belajar untuk membiasakan diri setiap hari menggunakan waktu untuk berdoa;  membangun dan menikmati persekutuan dengan Tuhan . Hanya dengan demikian, waktu kita mengalami kesulitan kita akan tahu bagaimana berdoa. Kita perlu menjadikan doa sebagai bagian dari naluri kita.

Jika kita mempelajari isi doa Nehemia dalam ayat 4 dan 5 kita mendapat kesan sepertinya Nehemia mengucapkan kutukan.

Ada beberapa hal yang dapat kita lihat dari doa Nehemia ini.

Pertama Nehemia membawa apa yang menjadi isi hatinya kepada Tuhan, “Ya Allah kami, dengarlah bagaimana kami di hina.”

Kedua : Tuhan engkau balikan , sama seperti mereka menghina kami , biarlah mereka dihina juga dengan cara seperti itu.

Ketiga : Biarlah mereka itu menjadi tawanan , diserang orang , dihancurkan oleh musuh .

Doa ini seperti sangat tidak Kristiani dan tidak Alkitabiah . Bukankah seharusnya Nehemia berdoa, “Tuhan ampunilah dosa mereka?” Namun sebaliknya, dalam ayat 5 Nehemia berkata Tuhan jangan tutupi kesalahan mereka dan dosa mereka jangan mereka hapus dari hadapanMu.

Mengapa Nehemia berdoa seperti ini ?

Alasannya nyata dalam bagian akhir dari ayat 5 “Karena mereka menyakiti hatiMU.” Nehemia begitu yakin bahwa apa yang dia lakukan itu adalah pekerjaan Tuhan. Karena itu dalam konsep Nehemia apa yang di tentang oleh orang orang Samaria, oleh Sanbalat dan Tobia, penghinaan-penghinaan mereka, bukan lagi penghinaan terhadap umat Tuhan tetapi penghinaan kepada Tuhan sendiri .

Dan sebetulnya ini adalah sikap yang kita juga temui di antara tokoh-tokoh lainnya seperti misalnya Daud. Daud pada waktu muda berani menghadapi Goliat , bukan karena dia orang yang berangasan, atau suka perang. Daud berani maju melawan Goliat waktu tentara Israel tidak ada yang berani maju karena dia merasa Tuhan dihina dan tidak ada orang yang membela . Karena itu dia maju . Dengan keterbatasannya , dengan ketidak mampuannya tapi dia maju dan Tuhan memberkati dia .

Hal ke dua yang di lakukan Nehemia adalah Nehemia terus membangun. Mereka membangun tembok sampai setengah tinggi dan sampai ujung ujungnya bertemu karena seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati. (ayat 6). Nehemia menghadapi tantangan yang tidak gampang dan waktu menghadapi tantangan seperti itu gampang sekali bagi kita untuk berkata “mari kita mundur.” “Mari kita menunda pembangunan ini, karena  pekerjaan ini menjadi masalah bagi mereka , maka mari kita tidak usah membangun. Kita diam saja , toh selama puluhan tahun tidak ada masalah.” Mereka tidak berhenti, mereka terus membangun. Nehemia tidak saja berdoa tetapi dia terus membangun. Ora Et Labora, berdoa dan bekerja harus berjalan bersama sama, bukan dua hal yang terpisah .

Berdoa tanpa bekerja itu namanya orang malas, orang yang hanya tahu datang kepada Tuhan dan meminta kepada Tuhan tetapi tidak mau berusaha adalah orang malas . Orang yang hanya tahu bekerja tanpa tahu berdoa itu namanya orang sombong. Tidak  mau bersandar kepada Tuhan , tidak mau berharap kepada Tuhan . Kita diajar bukan hanya menjadi orang yang tah berdoa, tetapi orang yang terus menerus bekerja , terus menerus berusaha , terus menerus melakukannya. Orang-orang Yahudi ini tidak menunggu hasil dari doa itu sebelum meneruskan pekerjaan pembangunan itu. 

Kalau kita melihat ayat yang ke 6 yang adalah kelanjutan dari ayat yang ke 5, setelah Nehemia berdoa mereka langsung mulai bekerja. Mereka belum tahu bagaimana Tuhan akan menjawab doa mereka, tetapi mereka dengan berani terus maju, terus bekerja. Melalui hal tsb kita melihat bagaiman Tuhan membuka jalan . 

Kita sering kali mau tahu bagaimana kita dapat memahami pimpinan Tuhan . Bagaimana kita tahu ini kehendak Tuhan  atau bukan?  Satu cara untuk mengetahui kehendak Tuhan atau bukan kita jalan. Tuhan seringkali bekerja seperti lampu mobil pada waktu malam . Kalo kita mengemudi di tempat yang gelap, lampu mobil walaupun kita sudah nyalakan yang paling terang tetap tidak dapet menerobos kegelapan itu . Ada batasnya dan kita tidak bisa mengatakan di ujung sana ada apa. Makin kita mengemudi lampu mobil itu akan menerangi jalan yang akan kita lalui, kegelapan itu akan semakin terpisah.

Tuhan bekerja seperti itu. Tuhan memimpin orang Israel waktu di padang gurun dan tiap hari Tuhan membawa mereka tanpa memberitahukan apa yang akan terjadi nanti. Nanti sudah sampai disitu Tuhan baru memperlihatkan . Nehemia bukan saja berdoa lalu dia diam disitu menunggu apa yang Tuhan akan lakukan, tetapi dia langsung bekerja . Dia serahkan masalah kepada Tuhan dengan sungguh sungguh; dia mencari pertolongan Tuhan, dan setelah itu dia melanjutkan pekerjaan itu. Dan melalui pekerjaan itulah mereka melihat bagaimana Tuhan memimpin , bagaimana Tuhan campur tangan , bagaimana Tuhan bekerja .

Hal yang ketiga kita dapatkan di dalam ayat yang ke 8.  Waktu mereka melanjutkan terus bekerja, bukan berati Nehemia tidak memperdulikan dengan apa yang terjadi. Pada ayat yang ke 13: “Maka aku menempatkan rakyat menurut  kaum keluarganya dengan pedang , tombak dan panah di bagian bagian yang paling rendah  dari tempat itu di belakang tembok di tempat tempat yang terbuka.”

Di dalam pembacaan ini kita melihat bukan hanya Nehemia berdoa,bukan hanya Nehemia terus bekerja , tapi Nehemia menyesuaikan strateginya. Nehemia merubah cara dia bekerja. Sebelumnya saudara mereka bekerja semua orang membangun , semua orang memakai 2 tangan, mengangkat batu dan mengerjakan pekerjaan lain. Namun sekarang,  karena ada ancaman, maka sebagian bekerja, sebagian berjaga-jaga disitu. Yang lain terus bekerja dengan 2 tangan tetapi di katakan pedangnya dekat dengan dia . Ayat 16: “Sejak hati  itu sebagian daripada anak buah ku melakukan pekerjaan sebagian dari yang lain memegang tombak perisai , panah dan mengenakan baju zirah, sedangkan para pemimpin berdiri dibelakang segenap kaum jehuda yang membangun tembok . Orang orang yang memikul dan mengangkut melakukan pekerjaannya dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain mereka memegang sanjata.”

Nehemia menyesuaikan strateginya; Nehemia menyesuaikan rencananya. Untuk maju kadang kadang kita harus berjalan ke pinggir dahulu .. Saya membaca artikel tentang Rock Climbing , walaupun saya tidak ada minat untuk melakukannya . Di dalam artikel itu di katakan waktu mereka memanjat itu seringkali untuk mereka supaya bisa naik ke atas, mereka harus turun sedikit, jalan kepinggir baru kembali naik keatas . Bukannya garis lurus ke atas.

Dalam kehidupan rohani kita, dalam pekerjaan kita, kita perlu punya rencana, sasaran yang kita mau capai, dan kita perlu punya strategi. Seringkali strategi itu harus di sesuaikan, bukan sasarannya.  Kita dapat menyesuaikan metode, bukan mengubah sasaran yang ingin dicapai. Nehemia berhasil memimpin pembangunan tembok Yerusalem karena dia bersedia menyesuaikan strategi sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang berkembang pada waktu itu.

Dalam menghadapi kesulitan, kita sering kali perlu menyesuaikan metode tanpa mengkompromikan hal yang prinsipil. Itu sebabnya penting sekali bagi kita untuk memahami hal-hal mana yang merupakan hal yang prinsipil dan mana yang merupakan metode. Metode pekabaran Injil misalnya, dapat dan perlu diubah sesuai dengan kondisi yang dihadapi; namun kita tidak boleh mengkompromikan berita Injil itu sendiri.

Nehemia menghadapi kesulitan yang muncul dengan berdoa, terus melanjutkan pekerjaan tsb dan menyesuaikan strategi sesuai dengan kebutuhan. Sebagai hasilnya dia sukses dalam pembangungan tsb. Bagaimana dengan kita? Saat kita menghadapi kesulitan dalam hidup kita, mari kita datang mencari Tuhan di dalam doa, maju terus pantang mundur, dan belajar untuk menghampiri masalah dengan metode yang berbeda.

Tuhan memberkati kita sekalian.

 

© 2005 First Indonesian Baptist Church Monrovia